Selasa, 25 Agustus 2015

Memasyarakatkan Transaksi Non Tunai

Penulis : Ilham - PALEMBANG


Uang merupakan alat tukar resmi untuk digunakan dalam sistem perdagangan. Jauh sebelum uang banyak beredar, kita mengenal sistem perdagangan melalui sistem barter atau tukar menukar barang tanpa menggunakan uang.
Meski sifatnya barter, namun pola perdagangan seperti ini tetap berlangsung di pasar. Beras bisa ditukar dengan sayur, atau sebaliknya bergantung dengan kebutuhan masing-masing. Namun pola perdagangan seperti ini sulit untuk mengenali berapa nilai dari satu barang yang diperjual belikan melalui sistem barter.
Dalam perkembangannya, pemerintah melalui Bank Indonesia sejak 69 tahun lalu mulai aktif menerbitkan uang sebagai alat tukar resmi dalam perdagangan. Sejak dikenal dua jenis uang bahan logam dan bahan kertas. Uang memang menjadi alat kebutuhan pokok sehari-hari, hampir semua aktivitas membutuhkan uang. Membeli perlengkapan, sekolah transportasi hingga buang kotoran dalam tubuh di tempat umum harus membutuhkan uang.
Setiap kepingan uang logam dan lembaran uang kertas, memiliki nilai yang berbeda. Seperti kata pepatah tidak ada uang tak ada barang, artinya ketika seseorang hendak membeli sesuatu uang yang harus disediakan sebagai alat tukar resmi yang diterbitkan pemerintah. Bank Indonesia selaku bank sentral yang memiliki mandat untuk menerbitkan uang setiap tahunnya mencetak uang dalam jumlah besar tentu dengan biaya yang cukup besar juga.
Perkembangannya di era yang semakin moderen, penggunaan uang sebisa mungkin dikurangi. Ini menyusul dengan terus meningkatnya biaya pencetakan uang. Satu riset menyebut, untuk satu lembar uang kertas biaya pencetakannya berkisar Rp16, dikalikan saja dengan triliunan lembar uang yang dicetak setiap tahunnya.
Bank Indonesia bersama lembaga keuangan bank mulai mencari rumusan untuk mengurangi angka peredaran uang, salah satu langkah yang ditempuh melalui penerbitan uang kartu alat alat pembayaran berbentuk kartu. Saat ini masyarakat sudah beredar beberapa jenis kartu yang bisa difungsikan sebagai alat pembayaran, mulai dari katu debit, kartu kredit hingga terbaru elektronic money. Semua jenis kartu ini merupakan alat pembayaran yang diterbitkan bank selaku perusahaan yang dipercaya untuk tempat penyimpanan uang.
Alternatif yang dilakukan dengan mengajak masyarakat khususnya yang sudah melek perbankan, untuk beralih menggunakan sistem pembayaran non tunai atau yang lazim disebut less cash society. Instrumen yang digunakan nasabah bank cukup banyak, mulai dari yang paling canggih menggunakan internet banking, SMS banking, hingga e-banking dan e-channel dan e-money. Sebelum instrumen canggih ini dikenal, banyak masyarakat orang terlebih dulu sudah mengenal ATM dan kartu kredit sebagai alat pembayaran menggunakan kartu.
Secara nasional, Bank Indonesia terus menggalakkan sistem pembayaran tanpa harus menggunakan uang melainkan menggantinya menggunakan kartu alat sering disebut less cash society. Di provinsi Sumatera Selatan, Bank Indonesia bersama lima bank mulai mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) untuk sistem pembayaran masyarakat, sebagai langkah awal membiasakan transaksi non tunai.
Ada lima bank yang terkait dalam gerakan ini, yakni Bank Mandiri, Bank Sumsel Babel, BCA, BRI dan BNI. Kepala Unit Sistem Pembayaran Bank Indonesia Provinsi Sumatra Selatan Dadan M Sadrah mengungkapkan, GNNT ini merupakan wujud dari perkembangan teknologi sehingga mendorong masyarakat untuk mulai peka terhadap perkembangan teknologi termasuk sistem pembayaran.
Salah satu tujuan dari GNNT ini untuk memberikan kemudahan dan efisiensi waktu dalam pembayaran sehingga sangat memungkinkan digunakan untuk pembayaran yang sifatnya praktis namun terkadang antriannya panjang, seperti di supermarket, tol maupun pengisian bensin.
Bank Indonesia bersama kementerian terkait sudah mencanangkan GNNT ini dibeberapa kota seperti Makassar, Banjar Masin, Denpasar, Surabaya, Jogja, Bandung, Padang dan Palembang. Untuk pengenalan gerakan ini semua kota tersebut menggan dengan perguruan tingga dan pemerintah daerah. “Di Palembang sendiri responnya sangat bagus terutama dari gubernur Sumsel yang turut ikut mendorong suksesnya program ini kedepannya,” katanya.
Penerapan less cash society sudah digaungkan sejak beberapa tahun terakhir. Namun sejauh ini penetrasinya masih belum memuaskan. Kendala infrastruktur seperti jaringan terlekomunikasi dan listrik kerap menjadi kendala yang menyulitkan.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah VII Palembang mencatat infrastruktur menjadi hambatan dalam implementasi program less cash society, terutama di kabupaten dan kota yang memiliki desa pelosok yang jauh dari jangkauan listrik dan jaringan telekomunikasi. Namun, BI Palembang bersama bank mitra terkait akan terus berupaya secara bertahap mengedukasi, sosialisasi guna tercapainya penerapan program Layanan Keuangan Digital (LKD).
Memang kami akui di lapangan masih banyak ditemukan kabupaten kota yang belum memiliki infrastruktur yang handal. Perbaikan infrastruktur untuk menunjang LKD pastinya dilakukan secara bertahap, mulai dari jaringan komunikasi, listrik PLN, SDM hingga mesin penunjang penggunaan uang e-money,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Sumatra Selatan Hamid Ponco.
Menurut dia, terwujudnya program less cash society ini perlu mendapatkan perhatian serius dari semua perbankan yang ada di Sumsel. Dia mengaku, penerapan e-money ini bukan berarti secara langsung menghilangkan transaksi uang tunai. Melainkan dilakukan bertahap seiring dengan upaya pembenahan infrastruktur yang ada, baik yang dilakukan pemerintah, swasta maupun perbankan.
Kami menjadi pilot project implementasi dari uang elektronik atau e-money di Sumatera. Sebagai tahap awal, kami me-launching penggunaan e-money di koperasi dan kantin dalam lingkungan Kantor Perwakilan BI Palembang. Maksimum nilai uang dalam e-money Rp1 juta,” terangnya.
Ke depan, pihaknya akan terus melakukan edukasi dan sosialisasi atas penerapan program LKD. Bahkan tidak menutupkemungkinan akan menjalin kerjasama atau MoU dengan pemerintah provinsi untuk memperluas penerapan less cash society.
Pengenalan less cash society ada baiknya dilakukan didalam lingkungan keluarga. Kami senantiasa mengedukasi masyarakat untuk menerapkan program less cash society. Less cash society ini merupakan sebuah gaya hidup dimana uang cash digantikan oleh keberadaan uang elektronik dalam tiap transaksi. Cukup satu kartu saja nasabah dapat memanfaatkannya tanpa harus membawa uang cash,” jelasnya.
Meski sudah dicanangkan jauh-jauh hari, namun implementasinya tentu tidak mudah, regulator bersama bank pelaksana harus menerobos kebiasaan yang sudah dilakukan masyarakat secara turun temurun, ketika mereka ingin berbelanja pasti akan membawa uang dalam bentuk cash tidak terlepas besar kecilnya belanjaan. sementara disisi lain perbankan ingin merupakan pola kebiasaan menggantikan uang dengan kartu tentu butuh waktu.
Merubah watak dan tradisi yang sudah melekat, butuh pengorbanan. Bagi bank untuk membiasakan masyarakat beralih ke sistem pembayaran non tunai membutuhkan modal yang tidak sedikit. sosialisasi berkala tentu perlu dilakukan, sementara ketersediaan infrastruktur juga menjadi hal yang wajib.
Ajak Pemda jadi Pionnir
Bank Indonesia mendorong pemerintah daerah untuk menjadi leader penerapan sistem pembayaran dengan cara non tunai. Meski sudah dicanangkan oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) namun baru 60 persen transaksi Pemda menggunakan non tunai.
Usai acara sosialisasi transaksi non tunai kepada Pemerintah Daerah, Kepala Unit Sistem Pembayaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Dadan M Sadrah mengungkapkan, selama ini yang menjadi kendala bagi pemda untuk melakukan transkasi non tunai terletak pada faslitas dan infrastruktur. Selain itu faktor pemahaman mayarakat juga kurang.
Dari berbagai belanja pemerintah, seperti pajak, gaji PNS, tender proyek dan lainnya sudah bisa dilakukan dengan cara non tunai. Namun ada beberapa transaksi yang masih menggunkana pola pembayaran manual alias menggunakan uang cash.
Kebanyakan transaksi yang dilakukan menggunakan pola manual adalah belanja pemerintah yang ditujukan kepada mayarakat terutama di pelosok yang belum memiliki akses jaringan perbankan.
Beberapa transaksi seperti pembayaran pajak daerah, PNPB, bantuan sosial, belanja perjalanan dinas, pembayaran barang dan jasa, PBB dan transaksi lainnya. Kebanyakan transaksi ini dilakukan oleh mayarakat atau unsur Pemda yang berada di daerah pelosok,” jelas Dadan.
Jika infrastruktur sudah memadai, semua transaksi tersebut sebetulnya sudah bisa dilakukan dengan sistem non tunai, asalkan peralatannya sudah memadai. Melalui gerakan non tunai yang sudah dicanangkan, semuanya bisa dilakukan.
Tinggal bagaimana pemerintah dan perbankan memberikan akses mudah untuk penyebaran agen Layanan Keuangan Digital (LKD). Sebab, dengan layanan ini, transaksi tidak mesti harus datang ke jaringan kantor bank. Namun baik pemerintah maupun mayarakat bisa bertransaksi dengan menggunakan ponsel mereka masing-masing melalui perantara agen.
Untuk menggalakkan sistem pembaran non tunai, tentu masih butuh perjuangan, sosialisasi dan pendidikan keuangan kepada mayarakat. Sebab sejauh ini 90 persen transaksi pembayaran yang dilakukan mayarakat masih menggunakan pola tunai. Kondisi ini tentu menjadi cost yang berat bagi negara. Sebab, biaya untuk mencetak uang sekarang ini sudah semakin mahal. “Kita sudah saatnya meniru negara miskin di Afrika seperti Kenya yang sudah menerapkan non tunai melebihi pembayaran tunai, atau mencontoh Fhilipina yang transaksi non tunainya sudah mencapai 80 persen,” kata Dadan.
Untuk itu, pemerintah daerah harus menjadi pioner penerapan sistem pembayaran non tunai ini, setidaknya Pemda memberikan contoh kepada masyarakat, ketika mereka melakukan pembayaran tidak harus menggunakan uang tunai. Jika sudah ada contoh, tentu Pemda tinggal memberikan penekanan kepada masyarakat, jika melakukan hubungan transaksi jual belu harus menggunakan mesin. Pola ini tentu bisa menjadi pengamanan dari transai yang tidak semestinya atas penggunaan uang negara.
Kepala Bidang e-Banking BRI, Johan Arief mengungkapkan, penetrasi penyebaran agen LKD melalui produk BRILink saat ini sudah sangat bagsu, antusias mayarakat terutama dipelosok sudah sangat tinggi. Sehingga meski belum genap satu tahun diluncurkan BRI sudah merekrut agen lebih dari tiga ribu agen.
Bagi agen, selain membantu penetrasi penerapan gerakan non tunai, menjadi agen juga menjadi potensi tambahan penghasilan, sebab setiap transaksi yang dilakukan mayarakat maka si agen akan mendapatkan fee dari bank maupun dari nasabah,” jelas dia.
Bank dalam Genggaman
Seiring dengan upaya pemerintah melalui Bank Indonesia untuk menggerakkan dan menggalakkan sistem pembayaran non tunai, perbankan pun mulai bergerak cepat. Setiap ada cela yang bisa dimanfaatkan bank langsung masuk, sebab meski menggarap layanan transaksi non tunai,membutuhkan investasi yang mahal, namun bagi bank tetap ada cela untuk meraup untuk besar, sementara bagi masyarakat akan semakin di mudahkan dan dimanjakan dengan kemudahan layanan yang diadapat.
Terbaru bank memanfaatkan membanjirnya pengguna gadget yang melesat hingga pelosok desa. Bahkan perbandingan antara jumlah penduduk dengan pengguna ponsel jauh lebih banyak pengguna ponsel. ini menjadi peluang yang ditangkap semua perbankan. di Sumsel meski penggunaan posel pintas untuk kalangan masyarakat pedesaan dan kalangan menengah kebawah baru booming dua tahun terakhir ini, namun jumlah penggunanya sudah melesat tajam.
Untuk memanfaatkan pengguna ponsel sebagai nasabah, bagi bank tentu menjadi tantangan tersendiri, sebab yang menjadi permasalahan tidak semua masyarakat pengguna ponsel nasabah bank. Selain itu masalah pemahaman yang minim masih menjdi faktor kendala.
CEO Bank Mandiri Wilayah Sumatera II Kuki Kadarisman menambahkan pihaknya menyambut positif adanya Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) atas penggunaan less cash society yang diprakarsai Kantor Perwakilan BI Wilayah VII Palembang. Dia menilai kendala dalam penggunaan e-money lantaran kurangnya edukasi dan sosialisasi serta ketersediaan infrastruktur yang dapat menjangkau hingga seluruh masyarakat sampai ke daerah.
Khusus di Bank Mandiri Wilayah Sumatera II tercatat sudah 85 persen nasabah telah menggunakan non tunai dibanding transaksi tunai. Transaksi non tunai bisa melalui jaringan e-channel seperti e-money, sms banking, internet banking, ATM, EDC, dan lainnya. Sedangkan 15 persen masih menggunakan transaksi tunai,” ujarnya.
Dia mengklaim peralihan penerapan transaksi non tunai sebenarnya sudah berlangsung sejak 2005 lalu dan penerapan e money ini diharapkan pula dapat menjadi contoh bagi perbankan lain sekaligus mengajak masyarakat untuk membiasakan diri menggunakan uang elektronik. Saat ini di area Sumatera II tercatat ada 1.016 buah jaringan e-channel, 16.755 unit mesin EDC, sms banking dengan kuantitas pengguna sekitar 750.000 user.
Sebagai upaya mendoron peningkatan transaksi less cash society, kami berikan poin, diskon 25% di merchant kerjasama Bank Mandiri dan lainnya. Ke depan kami pun akan memperbanyak kerjasama dengan merchant dan perbankan mesin EDC. (*/bersambung)


Senin, 17 Agustus 2015

Grand New Avanza Laris Manis



PALEMBANG, RP – Varian MPV anyar Toyota Grand New Avanza langsung menjadi buruan masyarakat yang ingin memiliki mobil baru. Hanya dalam waktu kurang dari sepekan 180 unit lebih langsung terjual.

Branch Head Auto 2000 Tanjung Api-Api Yagimin mengatakan, varian ini merupakan salah satu unit Toyota yang ditunggu oleh masyarakat. Penyempurnaan dari Avanza sebelumnya membuat unit ini kian diminati, apalagi Toyota sudah mempermak semua bagian mulai dari bodi dasbor hingga bagian mesin.

“Saat malah grand launcing beberapa hari lalu, 150 konsumen langsung melakukan SPK. Sementara saat kami melakukan pameran 300 Surat Permintaan Kendaraan (SPK) masuk dalam penjualan pameran di Atriaum PTC Mall Palembang sejak kamis lalu,” kata Yagimin.
 
Sales Suppervisor Auto 2000 Tanjung Api - Api Dawin Awen, mengatakan sejak dilaunching antusias masyarakat cukup tinggi.Apalagi saat malam setelah launching yang digelar dengan gathering bersama pelanggan Toyota mendapatkan antusias cukup baik.
 
" Saat malam gathering usai launching sore harinya , penjualan pun mencapai 150 spk yang masuk ke kita," jelas dia, usai melakukan penutupan launching Grand New Avanza dan Veloz di PTC Mall, Senin (17/8).
 
Pameran yang digelar sejak 13 Agustus hingga 17 Agustus tersebut pun tercatat penjualan masih didominasi oleh Avanza yang mencapai permintaan 65 persen dan Veloz 35 persen.Dalam sehari tercatat SPK bisa mencapai 25 hingga 30 unit. " Penjualan masih banyak yang didominasi oleh Avanza sebagai market leader, apalagi grand new avanza ini sangat menarik perhatian konsumen karena bentuk yang terbaru ini sangat stylish," jelas dia.
 
Diakuinya, banyaknya permintaan penjualan ini pun rata- rata yang membeli bukanlah orang pertama yang akan memiliki mobil akan tetapi orang yang telaj memiliki kendaraan. " Rata- rata juga yang membeli grand new avanza dan veloz terbaru ini pun merupakan pelanggan Toyota yang telah lama bukan tercatat pelanggan baru," ujarnya.
 
Diakuinya, para pelanggan Toyota ini kembali memilih karena telah mengetahui bagaimana kulitas Toyota sesungguhnya dan memang Avanza terbaru ini pun lebih nyaman dari sebelumnya. "Selama pameran kita menyiapkan test drive dan respon konsumen yang merasakan langsung sangat baik.Karena itulah banyak yang kembali memilih grand new avanza ini," kata dia.
 
Bahkan ada juga yang melakukan trade in (tukar tambah) yang mencapai 30 persen dengan kendaraan avanza lamanya. " Trade ini kita lakukan dan cukup banyak juga yang melakukan ini," jelasnya.
 
Diakuinya, walaupun saat ini keadaan ekonomi sedang tidak membaik akan tetapi penjualan Toyota masih tetap normal. " Kita berharap untuk pembeli penjualan akan terus meningkat usai pameran ini," ungkapnya. (iam)

Grand New Avanza dan Veloz Andalan Baru Toyota





PALEMBANG, RP – PT Toyota Astra Motor (TAM) meluncurkan dua varian big minor change Grand New Avanza dan Grand New Veloz. Toyota termasuk salah satu pabrikan yang cukup berani sebab menghadirkan dua produk baru disaat ekonomi sedang tidak pasti.
Tren penjualan otomotif sekarang ini terus megalami penurunan, Gaikindo saja sepanjang tahun ini telah dua kali melakukan revisi target penjualan otomotif. Pada awal tahun lalu, Gaikindo menargetkan penjualan mobil 1,3 juta, namun pada akhir semester pertama direvisi menjadi satu juta unit, baru-baru ini kembali direvisi menjadi 950 unit.

Perubahan target yang ditetapkan oleh Gaikindo ini setidaknya menjadi cerminan jika kondisi pasar sekarang sangat kurang bersahabat dengan otomotif. Meski tantangan dan resiko penjualan tersebut membayangi, Toyota tetap percaya diri. Sebagai raja penjualan saat ini Toyota kembali menggebrak dengan menghadirkan varian yang dikemas baru big minor change Grand New Avanza dan Grand New Veloz.

Dealer Keizend Support Deputy Divisi Head PT TAM Yudhi Kristianto mengungkapkan, meski kondisi pasar sekarang ini masih cenderung lesu. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang Toyota untuk untuk terus berinovasi menghadirkan produk baru. Sebab, produk ini dihadirkan sebagai bentuk penyempurnaan dari produk yang sudah ada. Produk ini merupakan produk improvement yang dihadirkan untuk mempertahan posisi Toyota sebagai pemuncak penjualan saat ini.

“Khusus untuk Avanza sudah hadir menemani masyarakat sejak 12 tahun terakhir. Selama ini sudah terjual lebih dari 1,3 juta unit. Produk ini merupakan yang paling laris sepanjan sejaran Toyota di Indonesia. Bahkan untuk penjualannya sudah memecahkan rekor MURI,” kata Yudhi.
Turut hadir pula pada acara tersebut, Tujuh Martogi Siahaan, Operational Manager Auto 2000 Sumbagsel, Felicia Aliman Branch Head Auto 2000 Veteran, Yagimin Branch Head Auto 2000 TAA, Saidi Ali Brach Head Auto 2000 Plaju dan Richie Setiawan Director PT Tunas Auto Graha, saat konferensi pers grand launching Kamis (13/8) di hotel Aryaduta.

Menurutnya, dua varian baru ini akan menjadi andalan baru Toyota saat evan pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) dan Indonesia International Motor Show (IIMS) september mendatang. “Selain produk lain, kita akan memajang juga produk ini, sebab bisa menjadi andalan baru untuk mencapai penjualan maksimal ketika pameran tersebut,” kata Yudhi.

Mesin Avanza dan Veloz kini sudah berbeda dari yang dulu. Bahasa teknisnya, pakai mesin Dual VVT-i, alias dual katup pada intake dan exhaust mesin agar kinerja mesin lebih irit dan performa lebih greng, untuk urusan bahan bakar mobil persyaratan minimumnya memakai RON 90.
 
Dengan mesin yang baru ini ada penambahan bobot sekitar 60 kg karena dimensi mesin yang besar. Namun meski begitu tidak banyak mengalami penambahan dimensi bodi karena Avanza model lama sudah menyisakan ruang yang cukup untuk mesin yang lebih besar. Mesin NR Series pada Avanza dan Veloz memiliki kode mesin 1NR-VE (1.300 cc) dan 2NR-VE (1.500 cc) menggantikan mesin lama 3SZVE. “Jadi benar-benar seri yang baru, yang baru ada dual VVT-i, ada dua katup di intake dan di exhaust mesin juga ada,” jelasnya.
 
Selain itu mesin terbaru Avanza ini juga bisa mendeteksi pergantian bensin dengan lebih mudah karena sensor knocking-nya bisa mendeteksi lebih lebar. Kalau di mesin mobil keluaran lama, kalau ganti Premix, diganti sudut pengapian, timingnya diubah, yang sekarang melakukan tugas itu ada yang namanya sensor kokcing, yang Avanza lama sensor knockingnya narrow band. Jadi pendeteksian tidak bisa segala ngelitik, baru dia adjust timing, nah yang sekarang wide band, dari ngelitik kecil sampai gede bisa terdeteksi.

Operational Manager Auto 2000 Sumbagsel Tujuh Martogi Siahaan menambahkan, hingga saat ini Avanza masih meminpin penjualan untuk mobil dikelas MPV low, hingga saat ini secara total market share Avanza di Sumsel menjadi 59,4 persen. Padahal tahun lalu masih dikisaran 50,1 persen. “Kami akan fokus mempertahankan market share Avanza di Sumsel bisa terangkat diangka 55 persen hingga akhir tahun nanti. Sebab meski secara unit mengalami penurunan, namun dengan peningkatan market share artinya kepercayaan masyarakat terhadap produk kami mengalami peningkatan,” terang Martogi.

Kepala Cabang Auto 2000 Tanjung Api-api Yagimin menambahkan, rate harga Avaza yang baru ini mengalami kenaikan cukup signifikan dari versi sebelumnya, kenaikan berkisar Rp7-18 juta sesuai dengan jenis dan tipe. “Selisih harga dengan Jakarta hanya Rp3,8 juta, itu untuk biaya pengiriman dan asuransi,”tegas Yagimin. (iam)

Selasa, 11 Agustus 2015

Ney Sonic 150 R Dan New CBR X Fire Andalan Baru Honda




Astra Honda Motor Wilayah Sumsel menargetkan penjualan hingga akhir tahun nanti mampu menjual motor 120-130 ribu unit. Hingga semester pertama lalu Honda mampu merealisasikan penjualan sekitar 60 ribu unit.

PALEMBANG, RP – Kepala Wilayah PT Astra International main diler Honda Motor Palembang, Yohannes Pratama mengatakan, tren pasar tahun ini secara total mengalami koreksi yang cukup tajam. Namun Honda masih beruntung masih bisa menjaga penurunan tidak terlalu dalam.
Secara market penjualan, pasar otomotif di semeter pertama hahkan hingga triwulan kedua mengalami penurunan 41 persen. “Tetap bersyukur, karena meski penjualan mengalami penurunan, market share kami naik signifikan, tahun lalu di periode yang sama diangka 50 persen,” jelas Yohannes disela acara kontes safety riding di kompleks Pelabuhan 35 Ilir Palembang, Selasa (11/8/2015).
Saat ini, sambung dia, sudah naik menjadi 60,6 persen. Mengacu data penjualan hingga semester pertama lalu, realisasi penjualan Honda mencapai 60 ribu unit untuk wilayah Sumsel, artinya setiap bulan rata-rata penjualan berkisar 10 ribu.
Jumlah mengini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu. Memasuki triwulan ketika ini, Honda tetap optimis akan adanya perbaikan pasar. Tidak heran jika sampai akhir tahun nanti Honda masih memberidik penjualan sebanyak 60 ribu lagi. “Target kami sampai akhir tahun bisa jualan sebanyak 120-130 ribu unit,” katanya.
Tingginya, target penjualan sampai akhir tahun bukan tanpa asalan, sebab di triwulan ketika ini Honda bersiap untuk mengenalkan dua varian baru yakni New CBR X Fire dan bebek sport Ney Sonic 150 R. “Dua varian ini akan menjadi andalan baru terutama di kelas motor sport,” kata Yohannes.
Acara kontes safety riding sendiri diadakan sebagai wujud ikut bertanggung jawabnya Honda untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. Sebab ATPM yang menjual motor paling banyak, tentu Honda memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi berkendara yang baik.
Dari 10 motor yang ada di jalan, 7 diantaranya menggunakan merek Honda, ketika terjadi kecelakaan motor tentu kebanyakan menggunakan motor Honda, makanya kami memiliki tanggung jawab yang besar untuk memberikan kecerdasan berkendara kepada masyarakat,” tutupnya. (iam)






Great New Xenia Reinkarnasi Xenia


PALEMBANG, RP – PT Astra Daihatsu Motor, selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), rencananya hari ini, Rabu (12/8), akan meluncurkan varian baru Great New Xenia. Mobil kembaran Toyota Avanza ini mengalami reinkarnasi. Daihatsu melakukan perubahan total baik dari tampilan bodi, dasboard hingga mesin.
Encar selalu authorized diler Daihatus Palembang bahkan sudah memajang unit terbaru ini sejak Selasa sore (11/8) di dilernya jalan Angkatan 45 Palembang. Tipe menengah dan tipe paling tinggi dipajang sekaligus.
Operasional Manager Encar Palembang David Susilo mengatakan, Great New Xenia yang akan diluncurkan ini mengalami perubahan total. Hanya beberapa bagian bodi yang tidak mengalami perubahan, sementara suspensi, rangka, hingga mesin dirombak total. “Perombakannya sekitar 70 persen menjadi Great New Xenia dari sebelumnya Xenia,” kata David saat dibincangi Radar Palembang dikantornya Selasa (11/8).
Menurutnya, Xenia pertama kali hadir tahun 2003 lalu, dan telah beberapa kali mengalami perubahan, namun untuk perubahan total baru kali ini terjadi. ATPM nampaknya ingin memberikan sentuhan baru untuk mengembalikan era kejayaan Xenia. “Beberapa tahun lalu, Xenia sempat merajai penjualan kendaraan roda dua di kelas MPV Low, namun dua tahun terakhir sedikit mengendur, namun saya yakin hadirnya produk baru ini akan menjadi jawaban atas kelesuan pasar saat ini,” jelasnya.
Perombakan 70 persen komponen mobil bukanlah perkara kecil, makanya Daihatsu sangat optimis produk ini bisa bersaing di pasar. Perubahan ini juga bisa mendorong Xenia sedikit naik kelas, meski dari segi jenis tetap di segmen MPV low, namun dari sisi interior dan eksterior jauh lebih mewah, karena mengadopsi mobil Terrios.
Dari varian yang terpajang, terlihat mesin 1.329 cc berkode 1NR-VE terbaru menggusur posisi K3-VE. Mesin baru ini menggunakan teknologi dual VVT-i terbaru untuk meningkatkan tenaga mesin lebih baik serta efisiensi dari segi bahan bakar.
Selain itu juga mobil ini sudah dilengkapi Throttle by Wire layaknya Nissan Grand Livina sehingga Xenia baru tidak memakai kabel mekanis lagi, sehingga berefek ke efisiensi bahan bakar.
Selain itu, update terbaru Great New Xenia adalah cluster instrument yang bergaya baru dan stylish dengan menampilkan iluminasi cahaya. MID Great New Xenia baru ini sudah dilengkapi dengan Average (AVG) dan Range terbaru.
“Desain eksterior varian paling rendah tipe D minus lampu kabut, sein pada spion, gril berkelir hitam, serta menggunakan pelek kaleng yang ditutup dop. Di kabin belum ada headunit namun jok sudah dilapisi bahan baru berwarna coklat, sementara untuk tipe paling tinggi sudah lengkap,” katanya.
Great New Xenia juga dilengkapi dengan dua warna baru. Selain warna utama yang sudah ada seperti putih, hitam, Silver dan lainnya, varian anyar ini juga sudah ada warna baru coklat dan biru. Ini tentu sudah disesuaikan dengan permintaan pasar. “Khusus di Encar, tahap pertama kami sudah menerima distribusi sebanyak 25 unit all varian, sementara untuk inden sudah ada 10 konsumen. Dengan produk baru ini kami yakin penjualan Xenia bisa naik 40-50 persen,” tutupnya. (iam)


Senin, 10 Agustus 2015

Vespa Merah Putih


 PALEMBANG, RP - Ada-ada saja ulah produsen kendaraan untuk meningkatkan penjualannya. Memanfaatkan momen HUT Kemerdekaan RI ke 70, CV Union Motor selaku diler resmi Vespa, menghadirkan Vespa Merah Putih. Beberapa jenis motor Vespa dan Piaggio warna khas bendera RI, dipajang di showroom membentuk lingkaran.
Tampilan ini merupakan suasana baru yang disajikan. Sebab, untuk menampilkan varian warna merah putuih, Vespa harus mengerahkan pegawai untuk menganggut motor warna merah dan putuh dari gudang. Hasilnya, cukup menarik. Semua pengunjung terkesima dengan dua corak warna motor yang begitu mencolok. Meski ada varian warna lain yang tetap dipajang di sorum, namun motor warna merah putih menjadi pusat perhatian pengunjung.
Sebetulnya, dari sisi unit, tidak ada varian baru yang ditampilkan. Semua produk adalah produk lama, seperti Piaggio Liberty, Vespa Srint, Vespa Primavera dan tipe lain, dengan tampilan warna yang cukup menarik perhatian. Apalagi di bagian samping tempat aksesoris khusus Vespa, turut pula dipajang produk yang semuanya menggangkat warna merah dan putuh.
Sales Counter Vespa Palembang, Angel Setiawan mengaku, tampilan khusus khas kemerdekaan ini sudah disajikan sejak beberapa hari lalu. “Kami hanya ingin menampilkan suasana berbeda. Tidak ada progam khusus untuk menyambut kemerdekaan, sebab Vespa baru saja selesai melaksanakan progam penjualan,” katanya.
Manager Operasional Union Motor Erwin Wijaya mengungkapkan, usai lebaran ini, Vespa mengalami peningkatan penjualan cukup signifikan. Rata-rata penjualan mencapai 15 unit perbulan. Ini tentu mengalami kenaikan dari sebelum lebaran. Sebab kala itu penjualan perbulan maksimal 11 unit.
Tingginya angka penjualan pasca lebaran, karena didorong oleh progam promosi berupa potongan harga dan pemberian voucer belanja bagi setiap pembeli Vespa. Selain itu, turut pula diakibatkan hadirnya varian terbaru jenis Vespa 1125 cc dengan harga di bawah Rp30 jutaan. “Kini menyambut kemerdekaan, kami memajang unit dengan warna khas bendera RI. Beberapa varian warna merah dan putih sengaja kami tampilkan di sorum beberapa hari kedepan,” katanya. (iam)

Rabu, 05 Agustus 2015

Melihat Lebih Dekat Kampoeng Tenun BNI Desa Muara Penimbung



Berdayakan 200 Ibu-ibu Rumah Tangga

Ilham – OGAN ILIR SUMATA SELATAN





11 FEBRUARI 2010 merupakan momentum bersejarah bagi masyarakat Desa Muara Penimbung Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir. Desa yang terletak cukup jauh dari pusat kota ini, mendapatkan kehormatan dibangunnya Galeri Kampoeng Tenun BNI dan sentra kerajinan songket Sumsel. Tidak tanggung-tanggung, kala itu BNI melibatkan tokoh kharismatik asal Sumsel, Hatta Rajasa, yang juga saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Perkonomian, untuk meresmikannya.

Meski sudah berusia hampir enam tahun, namun kondisi bangunan yang dibuat membentuk rumah tradisional khas Palembang, yakni rumah limas masih terawat dengan baik. Desa Muara Penimbung letaknya sekitar 6 kilometer dari jalan raya Indralaya.Tidak jauh dari Pondok Pesantren Al Ittifaqiyah, terdapat gerbang menuju desa yang terbuat dari bahan cor beton. Bagian atas dibuat melengkung, menghubungkan kedua tiang, nampak tulisan Kampoeng BNI Tenun Sumatra Selatan, kemudian di bagian tiang penyanga, terdapat logo Pemprov Sumsel, Kabupaten OI, dan BNI.
 
Masuk menelusuri jalan yang lebarnya tidak lebih dari lima meter ini, sekitar 6 kilo meter terdapat satu bangunan membentuk rumah limas, halaman bangunan ini terlihat paling luas di antara rumah warga yang berada di sekitarnya. Warna oranye khas BNI di tiang bangunan yang terbuat dari cor beton ini terlihat sangat mencolok. Plang nama yang berukuran panjang lebih dari dua meter bertuliskan galeri tenun Sumatra Selatan Kampoeng BNI, juga terlihat jelas.

Bangunan Kampoeng Tenun BNI, dibuat dua lantai. Pada bagian lantai yang terbuat dari bahan material keramik warna putih, nampak beberapa ibu-ibu muda sejak pagi mulai mengayuh tangan menganyam setiap helai benang untuk ditenun. Ruangan yang terbuka yang hanya ditutupi spanduk bergambar BNI, membuat suasana ruangan di lantai bawah terasa sangat adem dan nyaman. Ibu-ibu yang menenun tampak semangat, secara bergantian menghentakkan kayu tenun. Duduk berjejer dengan posisi berdekatan membuat mereka dengan leluasa menenun kain sambil bercengkrama.

Deretan peralatan tenun baik yang dipakai maupun yang masih tersisih, terlihat menghiasi setiap suduk ruangan yang sengaja dibuat terbuka tanpa sekat ini. Sejak pagi hari, biasanya puluhan ibu-ibu ramai-ramai mendatangi rumah ini untuk bekerja membuat songket khas Sumsel. Naik ke lantai dua, tepatnya di bagian isi dalam rumah, dengan melewati tangga yang terpajang berbentuk diagonal berbahan keramik, kita dapat melihat lentera teras rumah yang memanjang. Dari teras melihat ke dalam rumah terlihat deretan lemari hias yang terbuat dari bahan ukiran langsung menjadi santapan menyejukkan untuk mata. Apalagi, ketika melihat ke sisi samping ruangan tampak patung yang menyerupai manusia lengkap, dengan balutan kain songket asli buatan masyarakat setempat menjadi penglihatan yang membangkitkan gairah berbelanja.

Di dalam rumah ini, tidak kurang dari tiga lemari tempat menyimpan setiap stok songket yang diproduksi di Kampoeng BNI ini. Ratusan motif songket jenis terbaru terpajang di dalam lemari. Bahkan sebagian ada yang terpajang menggunakan patung. Meski bangunan ini berbentuk rumah limas namun BNI membangunnya untuk galeri pembuatan dan penjualan songket khas Sumsel di daerah Muara Penimbung. Sebab, di sini mayoritas pekerjaan wanita adalah menenun songket. Pekerjaan ini sudah dilakukan secara turun temurun.
Meski hanya galery, namun di dalam rumah ini juga tersedia tempat untuk istirahat, sofa untuk ngobrol hingga tempat tidur. Meski sudah lengkap hanya saja pengurusnya tidak memperbolehkan masyarakat sekitar untuk memasak di dalam rumah tenun ini. Namun, boleh kalau hanya untuk tidur.
 
Mardiah, penanggung jawab sekaligus ketua Kelompok Kampoeng Tenun BNI menceritakan, semenjak didirikan 11 Februari 2010 lalu, saat ini sudah ada 200 lebih masyarakat yang bergabung dalam Kamponge Tenun BNI ini. Dari jumlah itu terdapat enam kelompok yang bertanggung jawab terhadap semua anggota.
Meski tempatnya berada di desa Muara Penimbung Kecamatan Indrala namun, pengurus dan ketua kelompok tidak membatasi masyarakat daerah lain untuk ikut bergabung ke dalam kelompok. Makanya kecamatan tetangga seperti Pemulutan Barat dan Pemulutan Selatan banyak bergabung untuk ikut dalam Kampoeng Tenun BNI. Sebab, kelebihan pengrajin tenun ikut dalam kelompok ini bisa mendapatkan akses kemudahan mendapatkan pinjaman modal dari BNI untuk pengembangan usaha.

Jumlah anggota yang ada di Kampoeng Tenun ini selalu flexibel. Sebab, ketika ada anggota yang masuk ada juga yang keluar. Namun, biasanya yang keluar dari keanggotaan merupakan anggota yang bermasalah. “Kami tentu sangat berterima kasih kepada Bank BNI, sebab semenjak dibangunkan Kampoeng BNI ini kami memiliki wadah untuk membuka usaha. Sekaligus tempat berkumpul sesama pengrajin songket. Apalagi BNI selalu melibatkan kami dalam setiap event pameran yang mereka ikuti, ini tentu sangat membantu dalam hal pemasaran produk,” tuturnya.

Kampoeng Tenun BNI ini merupakan kampung binaan Bank BNI untuk memproduksi kain tenun asli daerah yakni kain Songket. Sebelum adanya Kampoeng ini, kain songket dari usaha rumah tangga di Muara Penimbung masih belum mampu mendongkrak produktivias dan kesejahteraan warganya. Dengan program BNI yang disebut PKBL, (program Kerja Bina Lingkungan) BNI sebagai pembina. Para penenun diberikan pelatihan, binaan, modal, dan pemasyaran.

Dia menatakan, semenjak Kampoeng BNI ini diresmikan, jajaran pajabat dan petinggi BNI selalu rutin berkunjung, baik membawa pelatih songket atau sekedar mengecek bangunan terkadang mereka menggelar acara ditempat ini, tujuannya tentu untuk memperkenalkan kain songket yang diproduksi di kampoeng ini.
Sekitar 200 anggota Kampoeng BNI, sejauh ini sudah sangat merasakan berkah dari dibangunnya tempat ini, apalagi setiap ada kesempatan BNI selalu rutin mendatangkan ahli songket yang datang dari luar. Para ahli ini datang untuk memberikan pemahaman yang baru kepada anggota. Bukan hanya teknik pemasangan, namun teknik rumit seperti pencungkitan hingga pembuatan benang alami yang terbuat dari pewarna alam dari aneka tumbuhan.

Pelatihan pembuatan benang yang terbuat dari bahan pewarna alam ini, sudah dilakukan sejak tahun lalu. Hasilnya saat ini Kampoeng BNI sudah mampu memproduksi kain tenun dengan motif yang lebih lembut, sebab benang tenun dibuat secara alami. Terobosan baru membuat kain tenun dengan bahan benang yang terbuat dari pewarna alam dari bahan tumbuhan ini hanya ada di Kampong Tenun BNI ini. Sebab meski daerah lain banyak memproduksi songket dengan motif yang sama, namun untuk bahan benang alam ini baru ada di Desa Muara Penimbung.

“Ini tentu menjadi keseriusan BNI dalam membantu kami mengembangkan usaha, bukan hanya menyediakan tempat yang layak, namun membuat progam, menghadirkan guru ahli hingga membantu menjual. Saya pribadi pernah diajak kebali untuk mengikuti pameran di ajang pertemuan OPEC di Bali tahun lalu,” tegas dia.
Kain songket yang terbuat dari bahan benang pewarna alam ini sangat mudah dikenali, meski banyak motif warna namun secra garis besar tidak ada warna kain yang mencolok. Semua warna terlihat lebih kalem dan sedikit gelap, meski demikian tatap saja pesona kain songket ini memikat setiap mata yang memandangnya. “Khusus untuk motif bahan pewarna alam ini harga di Galery berbeda-beda ratenya berkisar Rp1,5-2,5 juta bergantung motif dan kerumitan pembuatannya,” kata Mardiah.

Selain mendapatkan ilmu menenun dan membuat bahan benang songket, hal lain yang bisa didapatkan anggota ketika bergabung dalam kampoeng tenun BNI ini bisa mendapatkan kemudahan akses pinjaman modal. Apalagi selami ini, mayoritas anggota sudah pernah mengambil pinajaman modal. BNI bisa mengucurkan pinjaman maksimal Rp5 juta untuk anggota, sementara untuk ketua kelompok maksimal Rp30 juta.

Karena jumalah anggotanya cukup banyak, tentu saja besaran kredit yang dikucurkan dari progam PKBL cukup besar, meski demikian, diakui Mardiah selama ini belum ada pembayaran yang macet ke BNI, sebab semua kelompok sudah memiliki kesepakatan dengan BNI, setiap pinjaman menggunakan sistem renteng. Artinya, semua resiko yang dilakukan kelompok seperti pembayaran tersendat atau sengaja tidak membayar semuanya ditanggung resiko oleh Ketua kelompok. Jaminan untuk pinjaman semua anggota juga dibebankan kepada ketua kelompok, makanya BNI memberikan kelonggaran besaran pinjaman kepada ketua kelompok.

Kini sudah enam tahun berjalan, semua pengrajin songket yang ada di Muara Penimbung bisa merasakan manfaat dan bisa mengembangkan usaha berkat keberadaan Kampoeng Tenun BNI yang dibangun melalui progam kemitraan dan bina lingkungan tahun 2010 lalu. Mardiah merupakan salah satu contoh dari ratusan anggota yang sudah sukses, dirinya sejauh ini sudah mampu menembus pangsa pasar songket hingga ke provinsi lain di Sumatra, Jakarta, Jawa hingga dunia International.

CEO BNI Regional Palembang Asmoro Hadi mengatakan, BNI akan terus konsen menjaga Kampong Tenun BNI yang ada di desa Muara Penimbung ini. Kampoeng tenun ini selain sudah terbukti bisa membantu pengrajin songket, juga merupakan Kampoeng BNI terbaik dibandingkan dengan Kampong BNI lain di Indonesia.

“Kami selalu memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan di Kampoeng Tenun BNI ini, agar jangan sampai aset berharga penggerak ekonomi masyarakat ini rusak. Baru-bari ini kami membuat trali beli untuk semua pintu dan jendela, agar produk kain tenun yang ada di Galery Kampoeng ini bisa terjamin dan terjaga perawatannya,” kata Asmoro.

Kedepan, keberadaan Kampoeng Tenun BNI harus bisa lebih meningkatkan lagi produktivitas para pengrajin songket di Indralaya. Kebesaran songket di Sumatra Selatan sudah terkenal sejak masa kerajaan sriwijaya, melalui program PKBL kami ingin terus ambil bagian dalam membantu melestarikan kerajinan yang menjadi penghasilan masyarakat ini. (*)